Sudah hampir 1 sks berlalu, Luis masih saja melirik ke arah teman
satu kelasnya dari sudut ruangan. Hari lebih dingin dari biasanya mungkin
karena ada dua unit AC yang baru saja diperbaiki.
Tiga semester lamanya Luis terhipnotis oleh sosok itu. Sulit
baginya untuk berhenti melirik, bahkan sekadar memalingkan pandangan sebentar
pun terasa mustahil.
Jessie.
Mahasiswi dari kampus negeri itu sejatinya biasa-biasa saja. Tak
banyak hal istimewa yang bisa dibanggakan darinya. Bahkan ketika orang
mendengar jurusannya, reaksi yang muncul seringkali hanya:
"Ngapain/buat apa?"
Ya, Jessie berkuliah di Jurusan Bahasa Indonesia.
Luis anak yang pintar, terutama pintar ngomong sewaktu presentasi
tidak heran dia selalu mendapat ip diatas 3,9 tiap semesternya. Awalnya, Luis
sama sekali tidak berniat memilih jurusan ini. Tapi segalanya berubah sejak
pertemuan pertamanya dengan Jessie di kelas itu. Sekarang, ia merasa seperti
orang paling beruntung di dunia.
Bagaimana tidak?
Selama empat semester, Luis tidak pernah absen sekalipun. Bukan
karena materi kuliah yang menarik, tapi karena ia tak ingin melewatkan satu
hari pun tanpa melihat outfit apa yang akan dikenakan Jessie hari itu.
Pertemuan mereka yaitu di hari pertama mata kuliah Sejarah Bahasa.
Luis baru menyadari dia lupa membawa pulpen, ketika dosen meminta mereka
mencatat. Dengan panik, matanya menyapu seluruh ruangan, mencari siapa pun yang
mungkin bisa meminjamkannya.
"Ada yang punya pulpen cadangan?" bisiknya pada
teman-teman cowok di sekitarnya. Tanggapan yang didapat hanya gelengan kepala
dan anggukan penuh simpati.
Dengan malu-malu, Luis akhirnya menoleh ke bangku di depannya.
Seorang cewek dengan kerudung hitam pekat tanpa banyak bicara mengulurkan
pulpen merah muda.
"Makasih," ucap Luis sambil menyunggingkan senyum tipis.
Saat itu, Luis tak tahu namanya. Tapi Jessie tahu, di detik itu
juga, dia takkan pernah lupa dengan senyum pemuda bermata teduh itu.
Semester itu berjalan, dan suatu pola aneh mulai terlihat. Dari
sekian banyak mahasiswa di kelas, Luis dan Jessie selalu terjebak dalam satu
kelompok, untuk tugas-tugas kuliah. Awalnya Luis menganggap ini sekadar
kebetulan.
Sampai suatu hari, ia melihat Jessie dengan cepat berpindah tempat
duduk saat dosen mengumumkan pembagian kelompok langsung ke meja yang kosong di
sebelah Luis.
"Kebetulan lagi?" tanya Luis, setengah bercanda.
Jessie tersipu, menatap laptopnya dengan sengaja.
"Ya... kebetulan."
Tapi senyuman nakal di sudut bibirnya mengatakan hal yang berbeda.
Setelah sekian lama berkenalan, hubungan mereka akhirnya resmi.
Dukungan dari teman-teman sekelas mengalir deras, meski gaya pacaran Luis dan
Jessie terbilang unik lebih banyak sembunyi-sembunyi, masih malu-malu, seperti
dua anak SMA yang baru pertama kali jatuh cinta.
Satu tahun berlalu dalam kebahagiaan yang mereka pikir tak akan
pernah usai.
Hingga suatu pagi, tanpa tanda-tanda sebelumnya, notifikasi
WhatsApp di ponsel Luis berderet panjang. Long text.
Luis yang baru terbangun dengan kepekaan romantis setipis tisu masih
mengucek mata ketika membacanya. Pesan itu berisi kata-kata yang tiba-tiba
membuatnya nyesek:
"Aku enggak bisa lanjutin lagi, Luis. Maaf." Ucap jessie
dalam pesannya
Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada diskusi. Hanya beberapa
paragraf dingin yang mengakhiri segalanya.
Luis membeku.
Jessie, orang yang paling spesial dalam hidupnya baru saja
memutuskan hubungan mereka lewat chat. Di pagi hari. Seolah setahun
bersama hanya pantas diakhiri dengan notifikasi di layar ponsel.
Rasanya seperti ditampar, tapi lukanya tidak terlihat.
Dia mencoba menelepon, tapi nomor Jessie sudah tidak bisa
dihubungi.
Tidak adil rasanya bagi Luis.
Dia harus merasakan patah hati ini seorang diri, sementara Jessie
mungkin sudah melupakannya. Perlahan tapi pasti, seiring berjalannya waktu,
Luis mulai memahami satu kebenaran pahit:
Semua perempuan memang akan berubah pada waktunya.
Mereka bisa saja kehilangan rasa antusiasme itu, rasa
berdebar-debar, mata yang berbinar, dan getaran bahagia yang dulu selalu
terlihat jelas. Padahal sudah sekian lama bersama, sudah melewati begitu banyak
kenangan.
Di matanya sekarang, Jessie bukan lagi perempuan yang dulu dia
kenal. Bukan lagi sosok yang dengan sabar menunggunya di depan gedung fakultas
setiap jam istirahat. Bukan lagi gadis yang matanya selalu berbinar saat
menceritakan buku favoritnya.
Jessie yang sekarang adalah orang asing.
Wajahnya sama, tapi cahayanya sudah berbeda.
Suaranya serupa, tapi hangatnya tak lagi sampai ke hati.
Dan Luis? Dia hanya bisa berdiri di tepian, menyaksikan perubahan
itu terjadi tanpa bisa berbuat apa-apa.
Hari demi hari, Luis menjalani kuliah dengan keadaan hati yang
masih terasa berat. Kampus yang dulu terasa penuh warna kini seakan kelabu seperti
langit mendung yang tak kunjung hujan. Teman-temannya mungkin tak menyadari,
tapi senyumannya kini lebih tipis, dan tawanya tak lagi selepas dulu lagi.
Jessie masih sesekali muncul di beberapa medsosnya, tapi setiap
foto atau story-nya seperti pisau kecil yang mengingatkannya: "Dia
sudah bukan orang yang sama." Yang dulu membuatnya bersemangat
pagi-pagi hanya untuk mengirim pesan "selamat pagi", kini bahkan tak
membalas ketika Luis bertanya kabar.
Suatu sore, di tengah keramaian kantin kampus, Luis memandang
sepasang kekasih yang sedang berbagi makanan sambil tertawa. Dahulu, ia dan
Jessie juga begitu. Tapi sekarang, yang tersisa hanya pertanyaan-pertanyaan
yang tak terjawab:
"Apa yang salah? Apa yang berubah? Atau... memang begini
jalannya?"
Dia menarik napas dalam, mencoba menata ulang hancurannya. Mungkin,
patah hati bukan akhir tapi awal untuk mengenal diri lagi.
Kuliah pagi itu hujan gerimis. Luis berdiri di halte kampus,
menunggu bus sambil memainkan ujung jaketnya yang sudah mulai basah. Pikirannya
masih berkabut, sampai tiba-tiba—
"Eh, tasmu kebuka."
Suara perempuan di sebelahnya membuatnya terkejut. Luis menoleh dan
melihat seorang gadis dengan kacamata dan hoodie biru yang kebesaran itu
mengacungkan sebuah buku yang hampir jatuh dari tasnya. "Angan
tentangnya" judul buku itu, novel yang pernah Jessie rekomendasikan padanya
dulu.
"Makasih," balas luis singkat, mencoba tak terlihat tenggelam dalam
kenangan.
"Kamu suka buku ini?" tanya perempuan itu, matanya
berbinar. "Aku baru saja beli, tapi belum sempat baca."
Luis menghela napas. "Dulu suka. Sekarang... agak
sedih kalo baca."
Perempuan itu terkejut. "ouh maaf maaf aku gak
tau, tapi kayaknya kamu lagi gak baik baik aja ya. Aku Mira, kebetulan jurusan
Psikologi."
Hujan semakin deras, tapi untuk pertama kalinya dalam
berbulan-bulan, Luis merasa sesuatu yang asing yaitu “kehangatan.”
Mira ternyata sering muncul di hari-hari Luis setelah
pertemuan di halte itu. Awalnya sekadar kebetulan kantin yang sama,
perpustakaan dengan meja favorit yang berdekatan, bahkan sekali waktu mereka
ketemu di kedai kopi dekat kampus, tempat Luis dulu sering kencan dengan
Jessie.
Mira ternyata bukan sekadar orang yang baik. Di balik senyumannya
yang hangat, ia punya cara berpikir yang tajam seperti pisau tumpul yang justru
bisa mengupas kebenaran tanpa melukai.
"Jadi, menurutmu perubahan itu selalu buruk?" tanyanya
suatu hari, saat mereka duduk di pojok perpustakaan kampus. Luis mengernyit.
"Kalau itu membuat seseorang jadi dingin dan acuh, aku rasa
jawabanya iya."
Mira memainkan gelang kayu di pergelangannya. "Atau
mungkin... kita hanya melihatnya dari sudut yang sempit. Manusia itu seperti
sungai, Luis. Airnya terus mengalir, bentuknya berubah, tapi esensinya tetap
H₂O."
Luis tertegun. "Jessie dulu—"
"Bukan tentang Jessie," potong Mira lembut. "Ini
tentangmu. Kamu terjebak membandingkan Jessie yang dulu dan sekarang, tapi lupa
bahwa Luis yang sekarang juga bukan Luis yang dulu."
Udara di antara mereka mendadak terasa jernih.
Mira memang tidak menggantikan jessie, namun bisa lebih dari
menggantikan jessie. Mungkin hanya itu yang dibutuhkan luis saat ini.
Beberapa bulan kemudian, hujan kembali turun di kampus tapi kali
ini, Luis tidak lagi berdiri sendirian.
Mira menyandang tas berisi buku-buku bekas yang baru mereka beli di
bazar kampus, sambil tertawa karena Luis salah sebut judul novel
favoritnya. "Dasar nggak pernah serius!"
"Aku serius kok," bantah Luis, tiba-tiba diam.
Mira menoleh, menemukan matanya yang tenang. "Aku serius berterima
kasih... karena kamu nggak cuma membantuku move on, tapi juga menemani aku
mengenal diriku lagi."
Mira tersipu, main-main memukul bahunya. "Jangan
lebay! Aku cuma suka ngobrol sama orang yang bacaanya nggak cuman caption
Instagram."
Tapi Luis tahu, di balik candaannya, Mira adalah tempat yang
membuatnya mengerti bahwa cinta tak selalu harus romantis. Kadang, cinta itu
ada dalam cara seseorang mendengarkan tanpa menghakimi, dalam tawa yang tidak
pernah memaksa, dalam kesabaran yang memberinya ruang untuk tumbuh.
Posted by .png)

Habistu datang indra & abellio ingin menguasai sky arena dengan kombinasi 2 elemen yang menggemparkan seluruh penonton...
BalasHapusYA inilah SUMMONERS WAR SKY ARENA !!!